Berita Terbaru

18 Juni 2026

12 Jamaah Haji Aceh Wafat di Tanah Suci, PPIH Sampaikan Duka Mendalam

12 Jamaah Haji Aceh Wafat di Tanah Suci, PPIH Sampaikan Duka Mendalam


Berdasarkan data PPIH Embarkasi Aceh, hingga 18 Juni 2026 terdapat 12 jamaah haji asal Aceh yang wafat di Tanah Suci. Mereka berasal dari Kota Lhokseumawe, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Selatan, Bireuen, Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, dan Aceh Tamiang

ACEHMEDIACENTER.COM | Banda Aceh - Sebanyak 12 jamaah haji asal Embarkasi Banda Aceh (BTJ) dilaporkan wafat di Tanah Suci selama pelaksanaan ibadah haji 1447 H/2026 M. Para jamaah yang berasal dari sejumlah kabupaten dan kota di Aceh tersebut meninggal dunia akibat berbagai faktor kesehatan dan telah dimakamkan di lokasi pemakaman suci di Arab Saudi.


Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh, Drs. H. Arijal, M.Si., mengatakan hingga Kamis (18/6/2026), tercatat 12 jamaah haji asal Aceh wafat saat menunaikan ibadah haji di Arab Saudi.


"Berdasarkan data PPIH Embarkasi Aceh, hingga 18 Juni 2026 terdapat 12 jamaah haji asal Aceh yang wafat di Tanah Suci. Mereka berasal dari Kota Lhokseumawe, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Selatan, Bireuen, Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, dan Aceh Tamiang," ujar Arijal didampingi Humas PPIH Embarkasi Aceh, H. Darwin. 


Ia menjelaskan, sebagian besar jamaah meninggal dunia akibat gangguan kesehatan, seperti serangan jantung, gagal napas, penyakit ginjal kronis, serta komplikasi penyakit penyerta lainnya.


Atas peristiwa tersebut, PPIH Embarkasi Aceh menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada seluruh keluarga jamaah yang ditinggalkan.


"Atas nama PPIH Embarkasi Aceh dan seluruh petugas haji, kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya para jamaah haji Aceh di Tanah Suci. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah mereka, mengampuni segala dosa dan khilafnya, serta menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya," kata Arijal.


PPIH juga mengajak keluarga yang ditinggalkan untuk menerima musibah tersebut dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Kehilangan orang tua, suami, istri, maupun anggota keluarga tercinta tentu menjadi ujian yang berat. Namun, wafat saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci merupakan kemuliaan yang diharapkan oleh setiap Muslim.


"Kami mengajak seluruh keluarga untuk bersabar dan ikhlas menerima ketetapan Allah SWT. Mari kita doakan agar seluruh jamaah yang wafat memperoleh husnul khatimah, diampuni segala dosanya, dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan kelapangan hati," lanjutnya.


Kepergian para jamaah tersebut juga meninggalkan kenangan mendalam bagi petugas haji dan keluarga. Belum lama berselang, mereka masih mengikuti rangkaian persiapan keberangkatan di Asrama Haji Embarkasi Aceh. Selama masa karantina, para jamaah menjalani pemeriksaan kesehatan akhir, menerima dokumen perjalanan, mengikuti bimbingan manasik terakhir, hingga menerima uang saku (living cost) sebagai bekal selama berada di Arab Saudi.


PPIH Embarkasi Aceh memastikan seluruh jamaah yang wafat telah mendapatkan pelayanan terbaik dari petugas haji di Arab Saudi, mulai dari proses pemulasaran jenazah hingga pemakaman sesuai ketentuan syariat dan regulasi yang berlaku. Para jamaah tersebut dimakamkan di sejumlah lokasi pemakaman suci, seperti Jannatul Baqi di Madinah dan pemakaman Syaraya di Makkah.


Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah juga menjamin pemenuhan hak-hak jamaah yang wafat. Bagi jamaah yang belum sempat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji, telah dilakukan badal haji sesuai ketentuan yang berlaku, begitu juga dan dokumen terkait hak jamaah dan administrasi lainnya, akan diproses dan diserahkan kepada ahli waris setelah operasional penyelenggaraan ibadah haji selesai.


PPIH Embarkasi Aceh mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk mendoakan para jamaah yang telah berpulang agar memperoleh rahmat dan ampunan Allah SWT serta mendapatkan predikat haji yang mabrur.


"Semoga para dhuyufurrahman yang wafat di Tanah Suci memperoleh husnul khatimah, diterima seluruh amal ibadahnya, serta ditempatkan di surga terbaik. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesabaran, kekuatan, dan keikhlasan. Amin ya Rabbal Alamin," tutupnya. 


Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram

Syech Muharram Tegaskan Beut Kitab Bak Sikula Program Prioritas Aceh Besar

Syech Muharram Tegaskan Beut Kitab Bak Sikula Program Prioritas Aceh Besar


Program Beut Kitab Bak Sikula bukan sekadar program pendidikan biasa, melainkan bagian dari visi besar Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk membangun fondasi akhlak generasi masa depan.

ACEHMEDIACENTER.COM | Aceh Besar – Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi yang unggul secara intelektual dan kuat dalam nilai-nilai Islam. Komitmen tersebut diwujudkan melalui program unggulan Beut Kitab Bak Sikula, yang kini resmi memasuki tahap implementasi di sekolah-sekolah setelah melalui proses seleksi, bimbingan teknis, dan peusijuek para guru.


Prosesi peusijuek dan penyerahan guru Beut Kitab Bak Sikula berlangsung khidmat di halaman Gedung Dekranasda Aceh Besar, Kamis (18/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Aceh Besar Drs. Syukri A. Jalil, Sekda Aceh Besar Bahrul Jamil SSos MSi, unsur Forkopimda, para kepala OPD, pimpinan dayah, alim ulama, serta ratusan guru Beut Kitab Bak Sikula yang akan ditempatkan di berbagai satuan pendidikan di Aceh Besar.


Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris atau yang akrab disapa Syech Muharram menegaskan bahwa program Beut Kitab Bak Sikula bukan sekadar program pendidikan biasa, melainkan bagian dari visi besar Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk membangun fondasi akhlak generasi masa depan.


“Program ini adalah salah satu prioritas Pemerintah Kabupaten Aceh Besar. Kami meyakini bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas akhlak dan pemahaman agama generasi mudanya,” ujar Syech Muharram.


Ia mengungkapkan bahwa gagasan menghadirkan pembelajaran kitab di lingkungan sekolah telah lama menjadi cita-cita dirinya bersama Wakil Bupati Syukri A. Jalil, bahkan sebelum keduanya dipercayakan untuk memimpin Aceh Besar.


“Kami mewacanakan program ini jauh sebelum menjadi bupati dan wakil bupati. Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, hari ini program tersebut dapat diwujudkan dan mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.


Menurut Syech Muharram, kolaborasi antara pendidikan formal dan pendidikan dayah merupakan langkah strategis dalam memperkuat karakter generasi muda di tengah berbagai tantangan zaman.


“Selama ini mungkin tidak banyak yang membayangkan guru-guru dayah hadir mengajar di sekolah umum. Hari ini hal itu menjadi kenyataan. Ini adalah bentuk sinergi yang sangat baik antara dunia pendidikan formal dan tradisi keilmuan dayah yang telah menjadi identitas Aceh,” ujarnya.


Program Beut Kitab Bak Sikula akan menjangkau sekitar 29 ribu siswa di berbagai sekolah SD dan SMP.dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar. Melalui program tersebut, para siswa akan mendapatkan penguatan ilmu fardu 'ain dan pemahaman dasar-dasar agama Islam secara terstruktur.


Syech Muharram berharap seluruh peserta didik memiliki bekal keagamaan yang sama sehingga mampu tumbuh menjadi generasi yang kuat secara akidah, berkarakter dan berakhlakul karimah, serta siap menjadi pemimpin di berbagai bidang kehidupan.


“Kami ingin seluruh anak Aceh Besar memahami ilmu agama dengan baik. Kita berharap dari sekolah-sekolah ini lahir pemimpin-pemimpin masa depan, baik pemimpin bangsa, pemimpin daerah, maupun pemimpin umat yang memiliki dasar agama yang kuat,” tegasnya.


Kepada para guru Beut Kitab Bak Sikula, Syech Muharram berpesan agar menjadi teladan di lingkungan sekolah. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh materi yang diajarkan, tetapi juga oleh keteladanan yang ditunjukkan para pendidik.


“Guru harus menjadi contoh yang baik bagi siswa. Jaga etika, disiplin, dan perilaku sehari-hari. Kebiasaan yang kurang baik (seperti merokok) jangan dibawa ke lingkungan sekolah karena anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang mereka lihat,” pesannya.


Ia juga meminta para kepala sekolah untuk memberikan dukungan penuh kepada para guru Beut Kitab Bak Sikula agar proses pembelajaran berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi peserta didik.


Menurutnya, keberhasilan program tersebut membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, hingga orang tua siswa.


“Orang tua, kepala sekolah, dan guru harus berjalan seiring. Pendidikan karakter dan agama tidak mungkin berhasil jika dilakukan sendiri-sendiri. Kita harus saling mendukung demi masa depan anak-anak Aceh Besar,” harapnya.


Syech Muharram turut mengarahkan agar pelaksanaan pembelajaran Beut Kitab Bak Sikula ditempatkan pada jam-jam awal pembelajaran agar siswa dapat mengikuti pelajaran dalam kondisi terbaik.


“Kalau bisa dilaksanakan pada jam pertama dan kedua. Saat itu anak-anak masih segar, semangat belajar masih tinggi, sehingga ilmu yang disampaikan lebih mudah diterima,” jelasnya.


Sementara itu, ketua panitia pelaksana Tgk Munawar dalam laporannya menyampaikan bahwa program tersebut merupakan salah satu ikhtiar Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dalam memperkuat pendidikan agama di lingkungan sekolah.


“Seluruh tahapan mulai dari seleksi terbuka, bimbingan teknis hingga hari ini dilakukan prosesi peusijuek. Hari ini para guru resmi kami serahkan kepada kepala sekolah untuk menjalankan tugas di satuan pendidikan masing-masing,” jelasnya.


Panitia berharap para guru dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan sekolah serta mendapat dukungan dari seluruh pihak agar tujuan besar program ini dapat tercapai. 


Kegiatan tersebut juga diisi tausiah oleh ulama kharismatik Aceh, Tgk H. Athailah (Abu Ulee Titi), yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat pendidikan agama sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.


Melalui Beut Kitab Bak Sikula, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter dan spiritualitas peserta didik sebagai bekal menghadapi masa depan.


Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram

Buka Al Farabi Inspiration Day 2026, Farhan AP Tegaskan Penggunaan Bahasa Aceh di Sekolah

Buka Al Farabi Inspiration Day 2026, Farhan AP Tegaskan Penggunaan Bahasa Aceh di Sekolah


Kehadiran sekolah ini menambah pilihan sekolah unggulan di Aceh Besar. Kita berharap tidak semua terpusat di Banda Aceh, karena Aceh Besar memiliki wilayah yang luas untuk pengembangan pendidikan

ACEHMEDIACENTER.COM | Banda Aceh — Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Aceh Besar Bidang Tata Pemerintahan, Keistimewaan, dan Kesejahteraan Rakyat, Farhan AP, mendorong penguatan penggunaan Bahasa Aceh di lingkungan pendidikan sebagai upaya menjaga identitas lokal yang kian tergerus. Hal tersebut disampaikan Farhan AP mewakili Bupati Aceh Besar saat membuka Al Farabi Inspiration Day 2026, di Aula Landmark BSI Aceh, Banda Aceh, Kamis (18/6/2026).


Dalam kesempatan itu, Farhan mengapresiasi SMP IT Al Farabi Bilingual School yang memilih Aceh Besar sebagai lokasi pengembangan pendidikan.


“Kehadiran sekolah ini menambah pilihan sekolah unggulan di Aceh Besar. Kita berharap tidak semua terpusat di Banda Aceh, karena Aceh Besar memiliki wilayah yang luas untuk pengembangan pendidikan,” ujarnya.


Ia menilai menjamurnya sekolah unggulan, baik boarding maupun non-boarding, menjadi pemicu persaingan positif dalam meningkatkan mutu pendidikan di daerah.


Namun, Farhan mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara penguasaan bahasa asing dan pelestarian bahasa daerah.


“Tadi disebutkan ada Bahasa Inggris, Arab, dan Turki. Lalu, di mana Bahasa Aceh?” katanya.




Menurut Farhan, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar telah mengeluarkan surat edaran sejak 2021 yang mewajibkan penggunaan Bahasa Aceh setiap hari Kamis, yang kemudian diperkuat oleh kebijakan serupa dari Pemerintah Aceh pada 2025.


Ia menegaskan, kebijakan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan langkah konkret menyelamatkan Bahasa Aceh yang kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan.


“Berdasarkan riset UNESCO, Bahasa Aceh termasuk bahasa yang terancam punah dan diperkirakan hanya bertahan 20 hingga 25 tahun ke depan jika tidak dilestarikan,” ungkapnya.


Farhan juga menyoroti fenomena berkurangnya penggunaan Bahasa Aceh di lingkungan keluarga.


“Kita masih bisa berbahasa Aceh, anak kita hanya mengerti tapi tidak bisa berbicara. Jika ini terus terjadi, generasi berikutnya bisa jadi tidak lagi memahami Bahasa Aceh,” jelasnya.


Karena itu, ia berharap SMP IT Al Farabi dapat menjadi contoh dalam mengimplementasikan kewajiban penggunaan Bahasa Aceh, khususnya setiap hari Kamis, meski tetap mengedepankan bahasa asing sebagai kompetensi global.


“Kita tidak anti bahasa asing, tapi jangan sampai bahasa daerah ditinggalkan. Hari Kamis harus benar-benar dihidupkan dengan Bahasa Aceh,” tegasnya.


Selain itu, Farhan juga berharap sekolah tersebut dapat menjadi model pengembangan pendidikan di Aceh Besar serta berkontribusi dalam memberikan masukan terhadap kebijakan pendidikan daerah.


Ia turut berpesan kepada para siswa agar terus melanjutkan pendidikan dan berani merantau untuk membangun kemandirian.


“Ini bukan akhir, tetapi awal perjalanan baru. Terus belajar dan bersaing untuk masa depan yang lebih baik,” pesannya.


Sementara itu, Ketua Yayasan Komite Kemanusiaan Indonesia Aceh (KKIA), Dr. Jalaluddin, S.T., M.A, menyampaikan bahwa SMP IT Al Farabi yang baru berusia dua tahun telah menunjukkan perkembangan signifikan meski berangkat dari keterbatasan.


Ia juga mengungkapkan rencana pengembangan sarana sekolah, termasuk pembebasan lahan untuk pembangunan fasilitas yang lebih representatif.


“Kami mengajak seluruh pihak untuk berpartisipasi melalui wakaf sebagai bagian dari amal jariyah dalam memajukan pendidikan,” ujarnya.


Direktur Pendidikan Yayasan, Syakir Daulay, menambahkan bahwa SMP IT Al Farabi telah meraih sejumlah prestasi, di antaranya Juara 2 Duta Sadar Hukum Aceh Besar serta mewakili daerah pada Olimpiade PAI tingkat provinsi.


Ia menegaskan bahwa fokus utama sekolah adalah menjaga mutu pendidikan dengan memadukan kompetensi global dan nilai-nilai keislaman.


Kepala SMP IT Al Farabi, Siti Kembang Ati, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa wisuda siswa kelas IX menjadi awal perjalanan baru bagi para siswa.


“Hari ini bukan akhir, tetapi langkah awal menuju cita-cita yang lebih besar,” ujarnya.


Acara tersebut turut dihadiri Ketua DPRK Banda Aceh Irwansyah ST, perwakilan BSI, Danramil 11/Darul Imarah Kodim 0101/KBA Kapten Arh Hamka Siregar, serta tamu undangan lainnya.



Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram

Menkomdigi: Keberhasilan QRIS Jadi Model Integrasi Ekonomi Digital ASEAN

Menkomdigi: Keberhasilan QRIS Jadi Model Integrasi Ekonomi Digital ASEAN


“Manfaat ekonomi digital harus dirasakan oleh 680 juta masyarakat ASEAN dan jutaan pelaku usaha. Pertumbuhan ekonomi digital tidak boleh hanya menjadi angka besar, tetapi harus berdampak langsung terhadap ekonomi riil”

ACEHMEDIACENTER.COMJakarta – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menegaskan, keberhasilan implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi salah satu contoh nyata interoperabilitas digital yang dapat memperkuat integrasi ekonomi digital di kawasan ASEAN.


Hal tersebut disampaikan Meutya dalam Indonesia Summit 2026 di Jakarta, Rabu (17/6/2026), saat memaparkan peluang dan strategi transformasi digital Indonesia menuju penguatan ekonomi digital regional.

Menurut Meutya, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai penggerak ekonomi digital ASEAN karena didukung populasi besar, tingkat penetrasi internet yang tinggi, serta ekosistem digital yang terus berkembang.

“Ekonomi digital Indonesia saat ini bernilai sekitar 100 miliar dolar AS dan menjadi yang terbesar di ASEAN. Salah satu keberhasilan yang telah kita bangun adalah QRIS sebagai infrastruktur publik digital yang tidak hanya mempercepat inklusi keuangan di dalam negeri, tetapi juga mulai diadopsi di berbagai negara,” ujar Menkomdigi.

Meutya menjelaskan, QRIS menunjukkan bagaimana interoperabilitas dapat berjalan efektif antarnegara. Model tersebut dinilai dapat menjadi acuan dalam pengembangan kerja sama digital yang lebih luas di kawasan ASEAN.

“QRIS adalah contoh di mana interoperabilitas berjalan dengan baik di antara negara-negara ASEAN. Jika model seperti ini dapat diperluas ke sektor digital lainnya, maka posisi ASEAN sebagai kawasan ekonomi digital yang kuat akan semakin meningkat,” katanya.

Ia mengungkapkan, saat ini pemerintah bersama negara-negara ASEAN tengah mendorong penyelesaian Digital Economy Framework Agreement (DEFA) guna mempercepat integrasi ekonomi digital kawasan.

Dengan dukungan DEFA, nilai ekonomi digital ASEAN yang saat ini mencapai sekitar 300 miliar dolar AS diproyeksikan dapat tumbuh hingga dua triliun dolar AS pada 2030.

Menurut Meutya, pertumbuhan tersebut harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha, khususnya UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi di berbagai negara ASEAN.

“Manfaat ekonomi digital harus dirasakan oleh 680 juta masyarakat ASEAN dan jutaan pelaku usaha. Pertumbuhan ekonomi digital tidak boleh hanya menjadi angka besar, tetapi harus berdampak langsung terhadap ekonomi riil,” tegasnya.

Selain memperkuat interoperabilitas, Meutya menilai kerja sama digital kawasan juga perlu didukung penguatan konektivitas, investasi, pengembangan talenta digital, regulasi yang adaptif, serta tata kelola kecerdasan artifisial (AI) yang terpercaya.

Ia menegaskan, Indonesia mendorong visi pembangunan digital ASEAN yang berlandaskan tiga prinsip utama, yakni sovereign, interoperable, dan trusted, sehingga transformasi digital dapat berjalan inklusif, aman, dan memberikan manfaat yang merata bagi seluruh masyarakat kawasan.

“Indonesia ingin menjadi bagian dari penguatan ekonomi digital ASEAN yang tidak hanya besar secara angka, tetapi juga kuat dalam menciptakan nilai tambah dan kesejahteraan bagi masyarakat,” pungkasnya


Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram

17 Juni 2026

Kemkomdigi Percepat Pemulihan Layanan Telekomunikasi Pascagempa di Sulteng

Kemkomdigi Percepat Pemulihan Layanan Telekomunikasi Pascagempa di Sulteng


Untuk mempercepat pemulihan layanan, Kemkomdigi terus berkoordinasi dengan operator telekomunikasi, pemerintah daerah, serta berbagai pihak terkait guna memastikan jaringan komunikasi dapat segera kembali normal.

ACEHMEDIACENTER.COM | Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terus mengoordinasikan percepatan pemulihan layanan telekomunikasi di wilayah terdampak gempa bumi magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Selasa (16/6/2026).


Melalui pemantauan yang dilakukan Pusat Monitoring Telekomunikasi (PMT), Kemkomdigi memastikan upaya pemulihan jaringan berjalan secara bertahap guna menjaga konektivitas masyarakat di daerah terdampak.

Berdasarkan data PMT hingga pukul 15.00 WIB, gangguan layanan telekomunikasi terjadi pada 29 site base transceiver station (BTS) dari total 2.601 site yang beroperasi di wilayah terdampak. Dari jumlah tersebut, sebanyak delapan site telah berhasil dipulihkan dan kembali beroperasi.

Gangguan layanan tercatat terjadi di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Poso. Pemulihan tercepat berlangsung di Kota Palu dan Kabupaten Sigi, sementara proses perbaikan masih terus dilakukan di Kabupaten Poso yang menjadi wilayah dengan jumlah site terdampak terbanyak.

Kemkomdigi menjelaskan bahwa gangguan jaringan disebabkan oleh terputusnya jalur transmisi dan pasokan listrik akibat dampak gempa.

Untuk mempercepat pemulihan layanan, Kemkomdigi terus berkoordinasi dengan operator telekomunikasi, pemerintah daerah, serta berbagai pihak terkait guna memastikan jaringan komunikasi dapat segera kembali normal.

Selain memantau kondisi infrastruktur telekomunikasi, Kemkomdigi juga melakukan pemantauan terhadap personel dan fasilitas pendukung di lapangan. Berdasarkan laporan sementara, tidak terdapat korban jiwa maupun laporan insiden pada fasilitas telekomunikasi yang terdampak gempa.

Ketersediaan layanan telekomunikasi menjadi salah satu kebutuhan penting dalam situasi pascabencana, baik untuk mendukung komunikasi masyarakat maupun koordinasi penanganan darurat oleh pemerintah dan berbagai unsur terkait.

Kemkomdigi menegaskan akan terus memantau perkembangan kondisi jaringan serta menyampaikan informasi terkini mengenai proses pemulihan layanan telekomunikasi di wilayah terdampak gempa Sulawesi Tengah.


Sumber : Infopublik.id

Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram

BNPB Catat 312 Jiwa Terdampak Gempa M 6,7 di Sulawesi Tengah

BNPB Catat 312 Jiwa Terdampak Gempa M 6,7 di Sulawesi Tengah


BNPB mencatat sebanyak 110 kepala keluarga (KK) atau 312 jiwa terdampak akibat gempa tersebut. Selain satu korban meninggal dunia, terdapat 25 warga mengalami luka ringan dan 13 warga mengalami luka berat.

ACEHMEDIACENTER.COM | Sulawesi Tengah - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan satu warga meninggal dunia dan 312 jiwa terdampak akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,7 yang mengguncang Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Selasa (16/6/2026). Kabupaten Sigi menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan, baik dari sisi korban maupun kerusakan bangunan.


Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, berdasarkan laporan yang dihimpun hingga Rabu (17/6/2026) pukul 19.00 WIB, proses pendataan masih terus berlangsung dan menunjukkan adanya peningkatan jumlah warga terdampak serta kerusakan infrastruktur.  "Korban meninggal dunia dilaporkan berasal dari Kabupaten Sigi yang juga menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan. Di daerah tersebut tercatat sekitar 89 KK atau 272 jiwa terdampak," kata Abdul Muhari dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Rabu (17/6/2026).


BNPB mencatat sebanyak 110 kepala keluarga (KK) atau 312 jiwa terdampak akibat gempa tersebut. Selain satu korban meninggal dunia, terdapat 25 warga mengalami luka ringan dan 13 warga mengalami luka berat.


Di Kabupaten Sigi, tercatat 22 warga mengalami luka ringan dan 13 warga mengalami luka berat. Sementara itu, Kabupaten Parigi Moutong mencatat 21 KK atau 40 jiwa terdampak. Di Kota Palu, dua warga mengalami luka ringan, sedangkan di Kabupaten Poso satu warga mengalami luka dan masih dalam proses pendataan lebih lanjut.


Selain menimbulkan korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan pada permukiman dan sejumlah fasilitas umum. Berdasarkan pendataan sementara, sedikitnya 67 unit rumah terdampak. Dari jumlah tersebut, 26 unit mengalami rusak ringan, enam unit rusak sedang, dan 12 unit rusak berat.


Kerusakan juga terjadi pada enam fasilitas ibadah, dua jembatan, satu fasilitas umum, dua gedung perkantoran, tiga tempat usaha, serta satu ruas jalan provinsi yang menghubungkan Palu-Sigi-Poso dan mengalami amblas.


Kabupaten Sigi menjadi daerah dengan tingkat kerusakan tertinggi. Di wilayah ini tercatat 47 unit rumah terdampak, terdiri atas 23 rumah rusak ringan, enam rumah rusak sedang, dan 12 rumah rusak berat.


Selain itu, enam fasilitas ibadah, dua gedung perkantoran, satu jembatan, serta satu unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga mengalami kerusakan.


Sementara itu, Kabupaten Poso melaporkan lima unit rumah terdampak dan tiga rumah rusak ringan. Kabupaten Parigi Moutong mencatat 15 unit rumah terdampak. Di Kota Palu, keretakan terjadi pada Jembatan III, satu fasilitas umum terdampak, satu hotel mengalami kerusakan, dan satu tempat usaha terdampak. Adapun pendataan di Kabupaten Donggala masih terus dilakukan.


Dalam upaya percepatan penanganan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) terus melakukan kaji cepat dan pendataan di wilayah terdampak. Koordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan instansi terkait juga terus diperkuat.


Di Kabupaten Sigi, BPBD bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah menggelar rapat koordinasi penanganan darurat. Pemerintah Kabupaten Sigi saat ini sedang memproses penetapan status tanggap darurat selama 14 hari.


Selain itu, pos lapangan dipusatkan di Kantor Camat Nokilalaki untuk mempercepat koordinasi dan pelayanan kepada masyarakat terdampak.


Di Kabupaten Poso, BPBD bersama pemerintah daerah telah mendirikan tenda darurat di lingkungan RSUD Kabupaten Poso guna mendukung pelayanan kesehatan. Masyarakat bersama aparat kepolisian juga melakukan pembersihan puing-puing bangunan yang terdampak gempa.


BNPB menyebut aktivitas gempa susulan masih terjadi hingga sore hari. Karena itu, BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pemerintah daerah terus memantau perkembangan situasi dan mengimbau masyarakat agar tetap tenang serta hanya mengakses informasi resmi.


BNPB menegaskan akan terus melakukan pemantauan dan menyampaikan perkembangan penanganan dampak gempa bumi di Sulawesi Tengah secara berkala seiring berjalannya proses pendataan dan penanganan di lapangan.


Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram

Gempa M 6,7 Guncang Parigi Moutong, Pemkab Keluarkan Imbauan Darurat

Gempa M 6,7 Guncang Parigi Moutong, Pemkab Keluarkan Imbauan Darurat


ACEHMEDIACENTER.COM | Sulawesi Tengah - Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong bergerak cepat merespons gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Selasa (16/6/2026) pukul 11.27 WITA. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan keselamatan warga, mempercepat asesmen kerusakan, serta memperkuat mitigasi menghadapi potensi gempa susulan.


Melalui surat imbauan resmi Nomor 000.1/395/SEK, Bupati Parigi Moutong Erwin Burase meminta masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, mengingat aktivitas seismik masih berlanjut.


“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan,” ujar Erwin dalam pernyataan resminya.


Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, pusat gempa berada pada koordinat (-1.039237, 120.231180) dengan kedalaman 10 kilometer. Guncangan kuat tidak hanya dirasakan di Parigi Moutong, tetapi juga menjangkau wilayah sekitar seperti Kota Palu dan Kabupaten Sigi.


Hingga laporan ini disusun, BMKG mencatat sedikitnya 15 gempa susulan (aftershock), yang meningkatkan risiko kerusakan tambahan pada bangunan yang telah mengalami retakan.


Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Parigi Moutong saat ini masih berada di lapangan untuk melakukan pendataan dan asesmen dampak kerusakan.


Data sementara menunjukkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan di beberapa kecamatan.


Di Kecamatan Torue, kerusakan tercatat paling banyak, yakni di Desa Torue dengan satu rumah rusak di Dusun I, lima rumah di Dusun II, dua rumah di Dusun III, dan satu rumah di Dusun V. Sementara di Desa Tolai, satu rumah dilaporkan mengalami kerusakan di Dusun V.


Di Kecamatan Parigi Selatan, kerusakan terjadi di Desa Boyantongo, masing-masing satu rumah di Dusun III, dua rumah di Dusun IV, dan satu rumah di Dusun VI.


Sedangkan di Kecamatan Sausu, satu rumah warga di Desa Sausu Trans, Dusun VI, dilaporkan mengalami kerusakan.


Untuk meminimalkan risiko korban, Pemkab Parigi Moutong mengeluarkan delapan langkah mitigasi yang wajib diperhatikan masyarakat.


Warga diminta tetap tenang dan tidak panik, memeriksa kelayakan bangunan sebelum kembali masuk rumah, serta menjauhi bangunan yang retak atau berpotensi runtuh.


Masyarakat juga diminta memastikan jalur evakuasi tetap steril, mengutamakan berada di ruang terbuka saat terjadi gempa susulan, serta tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.


Pemerintah menegaskan masyarakat hanya boleh mengacu pada informasi resmi dari BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah guna menghindari penyebaran hoaks yang dapat memperburuk situasi.


Selain itu, warga diminta segera melaporkan apabila menemukan kerusakan bangunan berat atau adanya korban jiwa.


Pemerintah daerah menilai kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor krusial dalam menekan risiko bencana, terutama pada fase pascagempa ketika gempa susulan masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu.


Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan atau ingin melaporkan dampak gempa, laporan dapat disampaikan melalui Call Center BPBD Parigi Moutong di 08114180117 atau melalui kanal media sosial resmi BPBD.


Pemkab Parigi Moutong berharap seluruh elemen masyarakat saling membantu, menjaga ketenangan, serta mengutamakan keselamatan bersama selama masa tanggap darurat.


Dalam situasi seperti ini, kewaspadaan, informasi yang akurat, dan respons cepat menjadi kunci utama untuk meminimalkan dampak bencana.


Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram